Elise - A Responsive Blogger Theme, Lets Take your blog to the next level using this Awesome Theme

This is an example of a Optin Form, you could edit this to put information about yourself or your site so readers know where you are coming from. Find out more...


Following are the some of the Advantages of Opt-in Form :-

  • Easy to Setup and use.
  • It Can Generate more email subscribers.
  • It’s beautiful on every screen size (try resizing your browser!)

Selasa, 15 Desember 2015

// // Leave a Comment

Menguak Khasiat Kulit Buah Manggis



Menguak Khasiat Kulit Buah Manggis-Garcinia mangostana L merupakan nama latin dari Manggis. Jika rajanya buah adalah durian maka ratunya buah itulah manggis. Buah manggis dikenal sebagai buah yang memiliki rasa yang enak dan unik. Daging buah manggis berwarna putih yang menyelaputi bijinya. Tidak hanya buahnya yang enak dan bernutrisi namun ternyata kulit buahnya pun memiliki manfaat yang baik juga. Sekarang banyak sekali obat – obat herbal yang menggunakan kulit buah manggis sebagai bahan baku pembuatan obatnya.


Kandungan yang ada di kulit manggis diantaranya terdapat Xanthone yang merupakan senyawa polifenol yang secara structural sangat serupa dengan senyawa bioflavanoids. Senyawa ini termasuk yang jarang ditemukan di alam dan terbanyak didapatkan hanya pada dua keluarga tanaman. Terdapat sekitar 40 jenis xhantone terdapat pada buah manggis. Senyawa xanthone ini mempunyai khasiat sebagai anti-inflamasi atau anti peradangan juga anti-alergi. Selain xanthone manggis juga mengandung sterol, polisakarida, proanthocyanidins juga catechin yang juga baik bagi kesehatan tubuh.
Selain itu juga manggis memiliki kandungan vitamin C yang tinggi. hal ini dikarenakan dengan mengkonsumsi buah manggis ini 12 gram daging buah manggis sudah dapat mencukupi keperluan tubuh akan vitamin C. vitamin C ini memiliki kemampuan dalam meningkatkan ketahanan tubuh terhadap serangat penyakit flu, infeksi sampai penyakit kanker. Selain vitamin C, manggis juga mengandung vitamin B kompleks yang memiliki peran sebagai kofaktor di dalam proses metabolisme protein, karbohidrat juga lemak. Vitamin B ini seperti niacin, thiamin juga folat.
Adanya vitamin C pada buah manggis menyebabkan buah ini juga mempunyai khasiat dalam mengobati sakit sariawan. Dengan merebus kulit buah dari dua buah manggis dengan 2 gelas air kemudian direbus hingga tersisa 1 gelas air. saring air rebusannya kemudian gunakan untuk kumur – kumur setelah dingin tentunya. Dengan air rebusan kulit dan daging buah manggis juga dapat mengobati beberapa penyakit seperti demam, sawiawan, diare, juga disentri. Nah dengan adanya kandungan Xanthone pada buah manggis, ini dapat menghambat adanya pertumbuhan sel kanker bahkan menghancurkannya. Di dalam manggis juga terdapat mangan, kalium, tembaga juga magnesium. Dengan adanya unsure – unsur tersebut akan mampu menolong mengatur detak jantung juga tekanan darah sehingga dengan mengkonsumsi buah manggis dapat membantu melindungi tubuh dari serangan stroke juga jantung koroner. Adanya antioksidan di dalam manggis membuat penundaan penuaan juga mengatasi beberapa penyakit kulit yang dialami.
Mennurut sebuah situs kesehatan, terkadang ada orang yang tubuhnya mengalami reaksi jika mengkonsumsi bahan alami untuk pertama kalinya, diantaranya beberapa akan mengalami beberapa efek samping ketika meminum obat dari bahan alami seperti kulit manggis. Ada yang mengalami gatal – gatal pada bagian tubuh tertentu juga ada yang kulitnya mengalami kemerahan, ada juga yang mengalami nyeri di persendian, nyeri otot mual, sakit kepala hingga mengalami insomnia. Tetapi ini dialami ketika pertama kali mengkonsumsi saja dan tidak semua efek samping dialami bahkan ada yang tidak mengalami efek apa – apa. Tentunya dalam mengkonsumsinya tidak boleh berlebihan hal ini bertujuan untuk menghindari adanya efek samping.

Baca juga :  Manfaat Daun Sirih bagi Kesehatan
Read More

Jumat, 13 November 2015

// // Leave a Comment

Patofisiologi Demam Berdarah Dengue

Patofisiologi Demam Berdarah Dengue-Perbedaan klinis antara Demam Dengue dan Demam Berdarah Dengue disebabkan oleh mekanisme patofisiologi yang berbeda. Adanya renjatan pada Demam Berdarah Dengue disebabkan karena kebocoran plasma (plasma leakage) yang diduga karena proses imunologi. Hal ini tidak didapati  pada Demam Dengue. Virus Dengue yang masuk kedalam tubuh akan beredar dalam sirkulasi darah dan akan ditangkap oleh makrofag (Antigen Presenting Cell). Viremia akan terjadi sejak 2 hari sebelum timbul gejala hingga setelah lima hari terjadinya demam. Antigen yang menempel pada makrofag akan mengaktifasi sel T- Helper dan menarik makrofag lainnya untuk menangkap lebih banyak virus. Sedangkan sel T-Helper akan mengaktifasi sel T-Sitotoksik yang akan melisis makrofag. Telah dikenali tiga jenis antibodi yaitu antibodi netralisasi, antibodi hemagglutinasi, antibodi fiksasi komplemen. Proses ini akan diikuti dengan dilepaskannya mediator-mediator yang merangsang terjadinya gejala sistemik seperti demam, nyeri sendi, nyeri otot, dan gejala lainnya. Juga bisa terjadi aggregasi trombosit yang menyebabkan trombositopenia ringan.
 
Demam tinggi (hiperthermia) merupakan manifestasi klinik yang utama pada penderita infeksi virus dengue sebagai respon fisiologis terhadap mediator yang muncul. Sel penjamu yang muncul dan beredar dalam sirkulasi merangsang terjadinya panas. Faktor panas yang dimunculkan adalah jenis-jenis sitokin yang memicu panas seperti TNF-α, IL-1, IL-6, dan sebaliknya sitokon yang meredam panas adalah TGF-β, dan IL-10. Beredarnya virus di dalam plasma bisa merupakan partikel virus yang bebas atau berada dalam sel platelet, limfosit, monosit, tetapi tidak di dalam eritrosit. Banyaknya partikel virus yang merupakan kompleks imun yang terkait dengan sel ini menyebabkan viremia pada infeksi virus Dengue sukar dibersihkan. Antibodi yang dihasilkan pada infeksi virus dengue merupakan non netralisasi antibodi yang dipelajari dari hasil studi menggunakan stok kulit virus C6/C36, viro sel nyamuk dan preparat virus yang asli. Respon innate immune terhadap infeksi virus Dengue meliputi dua komponen yang berperan  penting di periode sebelum gejala infeksi yaitu antibodi IgM dan platelet. Antibodi alami IgM dibuat oleh CD5 + B sel, bersifat tidak spesifik dan memiliki struktur molekul mutimerix.
Virus dengue yang telah masuk ketubuh penderita akan menimbulkan viremia. Hal tersebut menyebabkan pengaktifan complement sehingga terjadi komplek imun Antibodi – virus pengaktifan tersebut akan membetuk dan melepaskan zat (3a, C5a, bradikinin, serotinin, trombin, Histamin), yang akan merangsang PGE2 di Hipotalamus sehingga terjadi termo regulasi instabil yaitu hipertermia yang akan meningkatkan reabsorbsi Na+ dan air sehingga terjadi hipovolemi. Hipovolemi juga dapat disebabkan peningkatkan permeabilitas dinding pembuluh darah yang menyebabkan kebocoran palsma. Adanya komplek imun antibodi – virus juga menimbulkan agregasi trombosit sehingga terjadi gangguan fungsi trombosit, trombositopeni, dan koagulopati. Ketiga hal tersebut menyebabkan perdarahan berlebihan yang jika berlanjut terjadi syok dan jika syok tidak teratasi, maka akan terjadi hipoxia jaringan dan akhirnya terjadi Asidosis metabolik. Asidosis metabolik juga disebabkan karena kebocoran plasma yang akhirnya tejadi perlemahan sirkulasi sistemik sehingga perfusi jaringan menurun dan jika tidak teratasi dapat menimbulkan hipoxia jaringan.
Masa virus dengue inkubasi 3-15 hari, rata-rata 5-8 hari. Virus hanya dapat hidup dalam sel yang hidup, sehingga harus bersaing dengan sel manusia terutama dalam kebutuhan protein. Persaingan tersebut sangat tergantung pada daya tahan tubuh manusia. Sebagai reaksi terhadap infeksi terjadi:
(1) aktivasi sistem komplemen sehingga dikeluarkan zat anafilaktosin yang menyebabkan peningkatan permiabilitas kapiler sehingga terjadi perembesan plasma dari ruang intravaskular ke ekstravaskular,
(2) agregasi trombosit menurun, apabila kelainan ini berlanjut akan menyebabkan kelainan fungsi trombosit sebagai akibatnya akan terjadi mobilisasi sel trombosit muda dari sumsum tulang dan 
(3) kerusakan sel endotel pembuluh darah akan merangsang atau mengaktivasi faktor pembekuan. 
Ketiga faktor tersebut akan menyebabkan
(1) peningkatan permiabilitas kapiler; 
(2) kelainan hemostasis, yang disebabkan oleh vaskulopati; trombositopenia; dan kuagulopati

Read More

Rabu, 04 November 2015

// // Leave a Comment

Gejala Demam Berdarah dan Cara Perawatannya

Gejala Demam Berdarah dan Cara Perawatannya-Diagnosis, WHO, 1986 mengklasifikasikan DBD menurut derajat penyakitnya menjadi 4 golongan, yaitu :
Derajat I
Demam disertai gejala klinis lain, tanpa perdarahan spontan. Panas 2-7 hari, Uji tourniquet positif, trombositipenia, dan hemokonsentrasi.
Derajat II Sama dengan derajat I, ditambah dengan gejala-gejala perdarahan spontan seperti petekie, ekimosis, hematemesis, melena, perdarahan gusi.
Derajat III Ditandai oleh gejala kegagalan peredaran darah seperti nadi lemah dan cepat (>120x/mnt ) tekanan nadi sempit ( ≤ 120 mmHg ), tekanan darah menurun, (120/80 120/100 120/110 90/70 80/70 80/0 0/0 )
Derajat IV Nadi tidak teaba, tekanan darah tidak teatur (denyut jantung ≥ 140x/mnt) anggota gerak teraba dingin, berkeringat dan kulit tampak biru.

TANDA DAN GEJALA
Selain tanda dan gejala yang ditampilkan berdasarkan derajat penyakitnya, tanda dan gejala lain adalah :
  1. Hati membesar, nyeri spontan yang diperkuat dengan reaksi perabaan.
  2. Asites
  3. Cairan dalam rongga pleura ( kanan )
  4. Ensephalopati : kejang, gelisah, sopor koma

Penegakkan Diagnosis
kriteria diagnosis menurut WHO, diagnosis DBD ditegakan bila semua hal berikut terpenuhi :
1. Demam atau riwayat demam akut, antara 2-7 hari
2. Terdapat minimal 1 manifestasi perdarahan
–>Minimal uji tourniquet (+), dinyatakan (+) jika ditemukan pada satu inci persegi (2.8×2.8 cm) terdapat lebih dari 20 petekie dan salah satu bentuk perdarahan lain (petekie, ekimosis, purpura, epistaksis dan perdarahan gusi)
–>Perdarahan mukosa (hematemesis dan melena)
3. Trombositopenia (jumlah trombosit <100 .000="" ml="" span="">
4. Terdapat minimal 1 tanda kebocoran plasma
–>Peningkatan hematokrit >20% dibandandingkan standard an jenis kelamin
–>Penurunan hematokrit >20% setelah mendapat terapi cairan dibandingkan nilai hematokrit sebelumnya
–>Ditemukan efusi pleura, asites, hipoproteinemia dan hiponatremia
Pemeriksaan laboratorium yang dilakukan pada DBD adalah :
1. Pemeriksaan darah rutin
meliputi kadar Hb, ditemukan trombositopenia ≤100.000/ml biasanya pada hari ke3-8 sejak timbulnya demam dan hemokosentrasi yang dilihat dari peningkatan hematokrit ≥20% sejak hari ke-3 demam. Jadi dengan ditemukannya tiga gejala klinis dari pasien yang disertai dengan trombositopenia dan peningkatan hematokrit sekitar 87% diagnosis DBD sudah dapat ditegakkan
2. Pemeriksaan hemostatis (PT, APTT dan fibrinogen)
pada DBD yang disertai manifestasi perdarahan atau kecurigaan terjadinya ganguan koagulasi
3. Pemeriksaan serologi
mendeteksi IgM dan IgG anti dengue. Pada infeksi primer IgM terdeteksi mulai hari ke 3-5, meningkat sampai minggu ke-3 dan menghilang setelah 60-90 hari, sedangkan IgG mulai terdeteksi pada hari ke-14. Pada infeksi sekunder terdeteksi mulai hari ke-2

Penatalaksanaan
umumnya penatalaksanaan DBD bertujuan untuk mengganti kehilangan cairan akibat kebocoran plasma dan simptomatis. Protokol pemberian cairan sebagai komponen utama penatalaksanaan DBD yaitu:
1. Penanganan pada fase demam
Pada fase ini untuk membedakan apakah anak menderita DF atau DHF. Maka pada fase ini penaganan dari keduanya adalah sama yaitu mengobati gejalanya. Dapat diberikan parasetamol (4 kali dalam 24 jam). Jangan memberikan aspirin dan ibuprofen karena akan menyebabkan gastritis dan perdarahan. Parasetamol yang diberikan menurut umurnya jika suhunya diatas 39ºC.
2. Penanganan DBD derajad 1 dan II
Gejala klinis: demam 2-7 hr, uji tourniquet (+) Atau perdarahan spontan
Lab:Ht tdk meningkat, trombositopenia (ringan)
Pasien masih dapat minum pasien tidak dapat minum
Beri minum banyak 1-2L/hr atau pasien muntah terus menerus
1sd mkn tiap 5 menit
Jenis minuman:air putih, teh manis,sirup,jus
Buah, susu, oralit
Bila suhu >38,5ºC beri parasetamol pasang infuse NaCl 0.9%
Bila kejang beri obat antikonvulsif dextrose 5% (1:3), tetesan rumatan sesuai berat badan, px Hb, Ht, trombosit tiap 6-12 jam
Monitor gejala klinis dan lab
Perhatikan tanda syok
Palpasi hati, ukur dieresis tiap hari
Awasi perdarahan
Px Hb, Ht, trombositopenia tiap 6-12 jam Ht naik dan atau trombosit
Perbaikan klinis dan lab infuse ganti ringer laktat
Pulang
3. Penanganan derajad II dengan peningkatan ≥ Ht 20%
RL/NaCl 0.9% 6-7 ml/kgBB/jam
Monitor tanda vital/nilai Ht dan trombosit tiap 6 jam
Perbaikan tidak ada perbaikan
Tdk gelisah gelisah
Nadi kuat distress pernapasan
TD stabil frek nadi

Dieresis cukup, HT turun (2x px) Ht ttp
, dieresi kurang
Tetesan dikurangi tanda vital memburuk tetesan dinaikan
Ht meningkat 10-15 ml/kgBB/jam
5 ml/kgBB/jam Ada perbaikan tetesan dinaikan bertahap
Evaluasi 15mnt
Perbaikan tanda vital tidak stabil
Sesuaikan tetesan
3 ml/kgBB/jam Distress pernapasan Hb/Ht turun
Ht

Stop pd 24-48 jam Tek nadi ≤20 mmHg
Klo tanda vital/Ht stabil Koloid transfusi darah segar
Dieresis ckp 20-30 ml/kgBB 10 ml/kgBB
perbaikan
4. Penanganan kasus DBD derajad III dan IV
a. O2 2-4l/menit
b. Penggantian vol plasma segera
cairan kristaloid (RL atau NaCl 0.9%
20 ml/kgBB secepatnya (bolus dlm 30 menit)
Evaluasi 30 menit, apakah syok teratasi?
Pantau tanda vital tiap 10 menit
Syok teratasi syok tidak teratasi
Kesadaran membaik kesadaran

Nadi teraba kuat nadi 
lemah.tdk traba
Tek nadi ≥ 20 mmHg tek nadi ≤ 20 mmHg
Tdk sesak nafas/sianosis distress pernafasan/sianosis
Ekstremitas hangat ekstremitas dingin
Dieresis cukup 1 ml/kgBB/jam px kadar gula darah
Cairan dlm tetesan disesuaikan lanjutkan cairan
10 ml/kgBB/jam 20 ml/kgBB/jam
Evaluasi ketat tambahkan koloid/plasma
Tanda vital dekstran/FPP
Tanda perdarahan 10-20 (max 30) ml/kgBB/jam
Dieresis
Hb, Ht, trombosit koreksi asidosis (evaluasi1jam)
Stabil dlm 24 jam/Ht < 40 tetesan 5ml/kgBB/jam
Syok teratasi syok belum teratasi
Tetesan 3 ml/kgBB/jam Ht
Ht
Infuse stop tdk melebihi 48 jam tranfusi darah segar 10 ml/kgBB
Setelah syok teratasi diulang sesuai kebutuhan
CONTOH KASUS DAN PENANGANANNYA
Seorang ibu datang ke dokter karena mengeluh anak laki-lakinya (12 tahun) menderita demam tinggi sejak 3 hari yang lalu. Ia dan keluarganya baru saja pindah ke kota Surabaya. Ia mendegar dari televisi bahwa wilayah Surabaya ditetapkan sebagia daerah KLB untuk kasus demam berdarah. Pada daerah tangan Os ditemukan bintik-bintik merah dan terkadang pasien mimisan. Setelah dilakukan pemeriksaan dokter menemukan uji tourniquet (+), dan pada pemeriksaan laboratorium ditemukan trombositopenia dan peningkatan hmt ≥ 20%.
Diagnosis
Berdasarkan penegakkan diagnosis DBD menurut WHO, dilihat dari kasus ditemukan adanya demam tinggi sejak 3 hari yang lalu, terdapat manifestasi perdarahan yaitu uji tourniquet (+) dan tangan Os ditemukan adanya bintik-bintik merah dan hidung Os juga mengalami mimisan. Pada pemeriksaan lab ditemukan adanya trombositopenia dan terdapat minimal 1 dari tanda kebocoran plasma yaitu peningkatan Ht ≥ 20%. Jadi kalau dilihat secara keseluruhannya maka Os termasuk derajad II
Terapi sesuai kasus
Jadi diagnosis kerja pada pasien ini adalah DBD derajad II maka penatalaksanaanya DBD derajad II dengan peningkatan Ht ≥ 20%.
Pada saat pasien datang diberikan cairan kristaloid RL/NaCL 0.9% atau dekstrosa 5% dalam RL/NaCl 0.9% 6-7 ml/kgBB/jam. Monitor tanda vital dan kadar Ht serta trombosit setiap 6 jam, selanjutnya evaluasi 12-24 jam :
1. Observasi keadaan umum membaik yaitu anak tampak tenang, tekanan nadi kuat, tekanan darah stabil, dieresis cukup dan kadar Ht turun minimal dalam 2x pemeriksaan berturut-turut, maka tetesan dikurangi menjadi 5 ml/kgBB/jam. Lakukan observasi lagi jika tanda vital tetap stabil, etsan dikurangi 3 ml/kgBB/jam dan cairan dihentikan pada 24-48 jam
2. Jika KU tidak membaik misalnya anak gelisah, nafas cepat (distress pernapasan), frekuensi nadi meningkat, dieresis kurang, tekanan nadi ≤ 20 mmHg memburuk serta Ht meningkat, maka tetesan dinaikkan menjadi 10 ml/kgBB/jam. Setelah 12 jam tidak terjadi perbaikan, tetesannya dinaikan lagi 15 ml/kgBB/jam. Evaluasi 12 jam lagi, jika distress pernapasan menjadi lebih berat dan Ht naik maka berikan cairan koloid 10-20 ml/kgBB/jam, dengan jumlah maksimal 30 ml/kgBB. Tetapi apabila Ht turun diberikan transfuse darah segar 10 ml/kgBB. Bila klinisnya membaik maka sesuaikan seperti no 1
Cairan awal
RL/NaCl 0.9% 6-7 ml/kgBB/jam
Monitor tanda vital/nilai Ht dan trombosit tiap 6 jam
Perbaikan tidak ada perbaikan
Tdk gelisah gelisah
Nadi kuat distress pernapasan
TD stabil frek nadi

Dieresis cukup, HT turun (2x px) Ht ttp
, dieresis kurang
Tetesan dikurangi tanda vital memburuk tetesan dinaikan
Ht meningkat 10-15 ml/kgBB/jam
5 ml/kgBB/jam Ada perbaikan tetesan dinaikan bertahap
Evaluasi 15mnt
Perbaikan tanda vital tidak stabil
Sesuaikan tetesan
3 ml/kgBB/jam Distress pernapasan Hb/Ht turun
Ht

Stop pd 24-48 jam Tek nadi ≤20 mmHg
Bl tanda vital/Ht stabil Koloid transfusi darah segar
Dieresis ckp 20-30 ml/kgBB 10 ml/kgBB
Read More

Minggu, 01 November 2015

// // Leave a Comment

Empat Jenis Makanan dan Minuman yang Tidak Boleh Dikonsumsi Penderita Tipus


Empat Jenis Makanan dan Minuman yang Tidak Boleh Dikonsumsi Penderita Tifus-penyakit Tifus merupakan penyakit yang cukup berbahaya bahkan bisa menyebabkan kematian jika tidak dirawat dengan perawatan yang tepat. Penyakit ini bahkan banyak menyerang manusia karena menyerang sistem pencernaannya. Penyerangan bakteri Salmonela ini pada sistem pencernaan menyebabkan pencernaan penderita penyakit tifus ini sangat lemah dan tentunya apapun yang dimasukkan kedalam tubuh penderita akan sangat mempengaruhi kondisi tubuh penderita tifus.
 
Bagi orang yang sakit baik itu sakit apapun tentunya asupan ke dalam tubuh sangat perlu diperhatikan. Karena yang masuk ke dalam tubuh baik itu berupa makanan maupun minuman sangat mempengaruhi kondisi tubuh dan juga system imun tubuh.  Khususnya bagi penderita penyakit tifus ini, makanan sangatlah butuh perhatian khusus. Kesalahan pemberian makanan justru akan memperparah penyakit dan kondisi tubuh penderita dapat semakin melemah. Penyerangan bakteri Salmonella pada usus manusia menyebabkan usus atau system pencernaan tidak mampu bekerja seperti seharusnya. Kesulitan usus dalam membentuk enzim-enzim yang membantu pencernaan. Oleh karena itu, pada penderita Tifus, makanan dan minuman sangat lah mempengaruhi kerja system pencernaan. Jika dalam kondisi system pencernaan yang sedang diserang Salmonella, penderita mengkonsusmsi makanan dan minuman yang dilarang itu justru akan memperparah sakit tifusnya.
Terdapat beberapa makanan ataupun minuman yang sangat dilarang atau perlu sangat diperhatikan serta dijaga dalam pengkonsumsiannya.  Bagi anda penderita Tifus dilarang atau dikurangi :
Yang pertama adalah mengkonsumsi makanan atau minuman yang tinggi serat, sangat banyak makanan dan minuman yang tinggi serat yaitu buah-buahan dan sayur-sayuran. Meskipun tubuh tetap membutuhkan vitamin dan mineral namun untuk mengurangi kerja usus maka konsumsi buah dan sayur perlu dikurangi.
Kemudian makanan atau minuman yang tinggi lemak seperti makanan atau minuman berbahan baku susu, namun jika susu rendah lemak masih bisa dikonsumsi. Bagi penderita tifus, diet lemak memang harus dilakukan karena jika penderita tifus mengkonsumsi lemak justru akan mempersulit kerja usus atau system pencernaan lainnya. Selain itu, makanan yang terlalu pedas sangat dilarang. Konsumsi cabe perlu dikurangi bahkan dihentikan sama sekali karena ini sangat berbahaya bagi system pencernaan penderita penyakit Tifus.Makanan dan minuman yang terlalu asam juga tidak boleh dikonsumsi. Buah yang asam sangat dilarang, oleh karena itu, lain kali jika ingin menjenguk seseorang yang sakit tifus sebaiknya pilihlah bawaan yang sesuai jangan membawa buah-buahan yang asam dan tinggi serat. Dan yang paling penting adalah penderita tifus dilarang makan makanan yang Keras. Oleh karenanya, penderita penyakit tifus ini sering disarankan atau bahkan diwajubkan mengkonsumsi bubur oleh dokter sampai benar-benar sembuh. Karena makanan yang keras juga mempersulit kerja system pencernaan.
baca juga :  Khasiat Okra Bagi Penderita Penyakit Diabetes Melitus
Read More